INDOOR AIR QUALITY – KUALITAS UDARA RUANG

Manusia modern menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam ruangan tertutup. Rumah, sekolah, kantor, tempat kerja ,mall, kafe. Waktu berada diluar ruangan di udara terbuka sangatlah sedikit. Akibatnya untuk bernapas manusia modern sangat tergantung kepada kualitas udara didalam ruangan.

Definisi Indoor Air Quality  biasanya digunakan untuk nonindustrial indoor environments, seperti gedung perkantoran, gedung fasilitas publik (sekolah, rumah sakit, teater, restoran, dll).

Kualitas udara ruang menurut Kepmenkes No.1405/Menkes/SK/XI/2001 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri dinilai melalui :

  • Suhu dan kelembaban
  • Debu
  • Pertukaran udara (Velocity)
  • Gas pencemar terdiri dari : H2S, Amonia (NH3), Karbon monoksida (CO), Nitrogen Dioksida ( NO2), Sulfur Dioksida (SO2)
  • Mikrobiologi

Kualitas udara ruang adalah kualitas udara di dalam dan di sekitar gedung, khususnya yang berhubungan dengan kesehatan dan kenyamanan penghuni gedung.  Kualitas udara ruang dipengaruhi oleh kontaminan mikroba (jamur, bakteri), gas (termasuk karbon monoksida, radon, volatile organic compounds),partikulat atau setiap massa dan energi yang dapat memicu kondisi kesehatan yang buruk.  Penggunaan ventilasi untuk mengencerkan kontaminan dan filtrasi merupakan metode utama untuk memperbaiki kualitas udara di sebagian besar bangunan. Sumber kontaminan udara ruang :

  • Dari luar ruangan : hasil pembakaran, kontaminan yang terbawa sepatu atau pakaian penghuni gedung.
  • Struktur bangunan dan interior furnishing : pada bangunan baru biasanya bau cat, furniture akan mempengaruhi kualitas udara ruang karena kandungan VOC (volatile organic compound) yang dihasilkannya.
  • Sistem mekanik pengaturan udara : AC , exhaust, humidifier, dehumidifier
  • Penghuni gedung : kebiasaan, hobi dan metabolisme penghuni gedung mempengaruhi kualitas udara ruang, termasuk jika memiliki penyakit yang menular melalui udara pernapasan.
  • Agen biologi : virus, bakteri, protozoa, jamur, pollen, tungau debu. Tempat berbiaknya agen biologi adalah karpet, sofa, AC.
  • Gas dan partikulat. Gas berupa asap rokok, ozone yang dihasilkan dari mesin fotocopy, printer laser dan mesin fax. Partikulat berasal dari asbes, silica , logam berat
  • Ozon, radon, volatile organic chemicals, pestisida. (McCunney,2003)

Kondisi kualitas udara ruang yang buruk akan menimbulkan Sick Building syndrome

Sick building syndrome, adalah  kondisi dimana penghuni gedung mengalami gangguan kesehatan akut dan perasaan tidak nyaman yang timbulnya berhubungan dengan lamanya waktu berada dalam gedung, tetapi tidak ada penyakit tertentu atau penyebab yang bisa di identifikasi. Karyawan yang mengalami gangguan kesehatan bisa berada didalam satu ruangan tertentu atau tersebar merata diseluruh gedung. (EPA, 1991)

Indikator Sick building syndrome adalah  (EPA,1991) :

  • Penghuni gedung mengeluhkan : sakit kepala, iritasi mata, hidung dan tenggorokan, batuk kering, kulit kering dan gatal, mual dan rasa dizziness, sulit berkonsentrasi, fatigue dan sensitif terhadap bau-bauan.
  • Penyebab gejala yang timbul tidak diketahui
  • Hampir semua keluhan yang timbul menghilang saat meninggalkan gedung

Apakah kualitas udara ruang yang perlu diperhatikan hanya di tempat umum dan perkantoran ? Bagaimana dengan di rumah ? Tentu saja kualitas udara ruang yang baik di rumah juga termasuk yang harus diperhatikan mengingat kita menghabiskan banyak waktu di dalam rumah, selain itu saat ini sebagian besar rumah diperkotaan sudah menggunakan AC untuk mengatur kenyamanan suhu ruang. AC di rumah perlu perawatan rutin setiap 3 bulan supaya bakteri Legionella tidak berbiak dan mengganggu kesehatan penghuni rumah.

Gambar : http://www.saniservice.com/

 

SICK BUILDING SYNDROME

Jangan dikira orang-orang yang bekerja di gedung-gedung tinggi itu selalu nyaman lho…karena ternyata sebagian dari mereka mengeluhkan rasa sesak napas, mata, hidung dan tenggorokan perih, sakit kepala, pusing, kulit kering dan gatal, sulit konsentrasi, mudah lelah. Keluhan tersebut hilang sesaat setelah meninggalkan kantor.  Hari ini saya diminta datang kesebuah gedung perkantoran di Jakarta untuk mendiskusikan masalah keluhan-keluhan tersebut yang dialami oleh sebagian karyawannya.  Keluhan sudah berlangsung satu tahun terakhir. Sebagai tenant sudah berulangkali menyampaikan keluhan tersebut ke pihak pengelola gedung tetapi tidak ada tindakan pasti untuk mengatasi keluhan tersebut. Kemungkinan besar pihak pengelola gedung tidak mengetahui bahwa para karyawan yang berada dalam gedung yang dikelolanya mungkin mengalami Sick Building Syndrome yang membutuhkan tindakan segera untuk mengatasinya.

Sick building syndrome adalah sekumpulan gejala yang timbul saat seseorang bekerja dalam suatu ruangan tertutup tetapi tidak bisa dijelaskan dengan pasti apa penyebabnya, keluhan bisa timbul di satu area tertentu atau diseluruh gedung dan gejala tsb hilang saat pekerja meninggalkan gedung tempat kerjanya.Sick building sydrome umumnya terjadi diperkantoran yang berada di gedung-gedung tinggi.

Penyebab Sick building sydrome tidak bisa ditentukan secara pasti, tetapi kombinasi dari beberapa faktor seperti suhu dan kelembaban yang tidak adekuat serta pencahayaan yang berlebihan atau kurang bisa berperan menimbulkan Sick Building Syndrome. Selain itu faktor-faktor berikut juga potensial menimbulkan Sick Building Syndrome :

  • Kontaminan kimia dari luar ruangan : asap knalpot kendaraan, asap pembakaran dari dapur,
  • Kontaminan kimia dari dalam ruangan : berasal dari peralatan dan bahan-bahan yang ada dalam gedung seperti karpet, lem dan pelapis mejadan kursi kerja, bahan pembersih, pestisida, asap rokok, mesin fotocopy, printer.
  • Kontaminan biologi : pollen, jamur, spora, bakteri bisa tersembunyi di karpet, gorden, digenangan air AC,saluran air. Kontaminan biologi bisa menimbulkan demam, dada sesak, batuk, nyeri otot dan reaksi alergi. Bakteri Legionella yang berbiak didalam air AC bisa menimbulkan Demam Pontiac dan penyakit Legionairre.
  • Ventilasi yang tidak adekuat berkaitan dengan rendahnya velocity atau rendahnya kecepatan aliran udara didalam ruangan. Velocity yang kurang akan menyebabkan ruangan terasa pengap karena sirkulasi udara segar ke dalam ruangan kurang.

Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk memastikan Sick Building Syndrome diantaranya adalah :

  • Melakukan pengukuran Indoor Air Quality untuk memastikan kualitas udara dalam ruangan sebagai dasar untuk memperbaiki sistem ventilasi.
  • Mencari sumber kontaminan, misalkan : adakah karyawan yang merokok dalam ruang kerja, penggunaan bahan-bahan pembersih ruangan, penyimpanan bahan-bahan yang kimia untuk kebersihan yang mudah menguap.
  • Perawatan karpet secara rutin untuk menghindari tumbuhnya tungau, jamur serta bakteri
  • Periksa area-area yang mungkin lembab dan berisiko tumbuh mold (jamur) seperti area pantry dan toilet.
  • Cek perawatan AC central apakah dilakukan secara rutin setiap 3 bulan.
  • Cek AHU – Air Handling Unit apakah ada kebocoran
  • Cek ducting nya
  • Cek roof surface mungkin banyak debu tertimbun di sana.

Jika anda dokter yang berpraktek  klinik di sebuah gedung perkantoran dan kunjungan terbanyak kasus alergi, asma, sakit kepala, fatigue yang berulang-ulang ada baiknya anda pikirkan kemungkinan pasien anda mengalami Sick Building Syndrome .

Sumber : www.nsc.org